Dzikir Matahari dan Pasir Laut
Dzikir Matahari dan Pasir Laut
Alif Tanpa Titik • Track 04
Bismillahir-rahmanir-rahim. Dengan wajah yang tertunduk malu, kami mencoba melantunkan pujian yang takkan pernah sebanding dengan keagungan-Mu. Kami hanyalah setetes air yang merasa besar, padahal tanpa samudra-Mu kami akan segera menguap dan hilang.
Musyahadah: Menyaksikan Dzikir Semesta
Lagu ini adalah perjalanan kontemplasi mengenai Tajalli atau penampakan keagungan Tuhan pada seluruh ciptaan-Nya. Melalui metafora daun yang gugur dan gunung yang diam, kita diajak menyadari bahwa alam semesta sedang melakukan Dzikir Abadi. Sebuah pengakuan bahwa kemiskinan sejati adalah hati yang jauh dari Al-Ghaniy, dan kesucian hanya milik Al-Quddus.
Lirik & Lantunan
(Verse 1)
Siapa yang menulis nama-Nya di daun yang gugur?
Bagaimana gunung diam berdiri tanpa rasa takabur?
Aku mendengar laut berbisik: Ya Rahman, Ya Rahim
Mengagumi dzikir abadi yang tak pernah berpaling.
(Pre-Chorus)
Pencipta semesta, yang kekal di atas Arsy
Dia mengukir keindahan, di setiap pasir yang bersih
Jiwaku memuji Dzat yang tak pernah terbanding
Tak ada yang serupa, dalam segala keagungan.
(Chorus)
Wajah-Nya adalah cahaya, tak tersentuh kefanaan
Agungan-Nya melingkupi setiap inci perjalanan
Sifat-Nya sempurna, tak pernah mengenal batas
Dzikir alam semesta adalah nafas Sang Khalik.
(Verse 2)
Dia yang Maha Melihat, tanpa butuh kelopak mata
Dia yang Maha Mendengar, walau tanpa telinga
Kupanggil Al-Ghaniy, karena hatiku miskin tanpa-Nya
Kusujud pada Al-Quddus, membersihkan jiwa dari noda.
(Bridge)
Matahari bersujud di ufuk, pasir laut menghitung doa
Setiap ciptaan ber-tasbih, tanpa perlu lidah bersuara
Aku hanyalah setetes air, yang mencari samudra
Menyanyikan nama-nama-Nya, hingga raga tak bernyawa.
(Outro)
...Ya Rahman, Ya Rahim... Ya Quddus... Ya Malik...
Komentar
Posting Komentar