Tentang Saya
"Di mana kata-kata berakhir, musik bermula; dan di mana nada bersujud, di sanalah zikir bertahta."
Muqaddimah: Oase Sunyi
Junsin88 bukanlah sekadar persinggahan pixel di layar kaca, melainkan sebuah jalan kecil menuju keheningan. Kami hadir untuk menenun kembali serpihan jiwa yang koyak oleh kebisingan dunia. Di sini, setiap denting nada dan larik kata adalah ayat-ayat Tuhan yang tersirat, mengajak kita menari dalam kerinduan untuk kembali ke pelukan Sang Maha Indah.
Visi: Cahaya dalam Harmoni
Kami berupaya membasuh wajah seni kontemporer dengan air wudhu spiritualitas. Junsin88 ingin membangun sebuah Rumah Digital di mana teknologi tidak menjauhkan kita dari Tuhan, melainkan menjadi perahu yang membawa akal dan kalbu berlayar menuju samudera Ihsan.
Trilogi Ruhani
1. NADA (Zikir Musikal)
Kurasi frekuensi ketenangan yang dirajut melalui musik religi dan instrumen meditatif, jembatan antara getaran bumi dan frekuensi langit.
2. MAKNA (Tinta Kalbu)
Narasi yang menggali kedalaman tauhid di balik fenomena modernitas, mengubah opini menjadi renungan, dan kata menjadi doa.
3. HIKAYAT (Cermin Salaf)
Menghidupkan kembali langkah kaki para kekasih Tuhan terdahulu sebagai lentera bagi kita yang sedang meraba jalan di tengah kegelapan zaman.
Pojok Jenaka Sufi:
Ada seorang murid bertanya pada gurunya, "Guru, kenapa blog Junsin88 ini isinya tentang akhirat tapi tampilannya mewah sekali?" Sang Guru tersenyum sambil menyeruput kopi, "Anakku, iblis itu menggoda kita dengan bungkus yang cantik. Maka Junsin88 meminjam bungkus itu untuk mengajakmu pulang. Kalau rumah Tuhan saja punya pintu berlapis emas, kenapa jalan pulangnya harus terlihat kusam? Yang penting kopimu jangan tumpah saat kau sibuk memandangi dunia."
Ada seorang murid bertanya pada gurunya, "Guru, kenapa blog Junsin88 ini isinya tentang akhirat tapi tampilannya mewah sekali?" Sang Guru tersenyum sambil menyeruput kopi, "Anakku, iblis itu menggoda kita dengan bungkus yang cantik. Maka Junsin88 meminjam bungkus itu untuk mengajakmu pulang. Kalau rumah Tuhan saja punya pintu berlapis emas, kenapa jalan pulangnya harus terlihat kusam? Yang penting kopimu jangan tumpah saat kau sibuk memandangi dunia."
Komentar
Posting Komentar