Full Album Alif Tanpa Titik
Alif Tanpa Titik
FULL ALBUM BY JUNSIN88
Tentang Album
"Alif Tanpa Titik" adalah sebuah perjalanan musik spiritual yang merangkum fase-fase pencarian hamba. Dimulai dari kesunyian hingga melebur dalam ketiadaan (Fana). Album ini adalah undangan untuk berhenti sejenak dari riuh dunia dan mendengarkan bisikan asma-Nya.
Daftar Lagu & Lirik
PRODUCED BY JUNSIN88
© 2025 • Seluruh Hak Milik Ilahi
01. Gerbang Sunyi
[(Verse 1) Langkah tersesat di rimba gemerlap Cahaya ilusi, bayangan yang lenyap Harta dan tahta, ilusi yang kau sabet Semua janji bumi, hanyalah busa di samudra. (Pre-Chorus) Jiwa ini letih, memikul beban raga Menanti bisikan, di mana arah pulang? Aku berbalik dari riuh yang memanggil namaku Kusambut kehampaan, di dalamnya ada makna. (Chorus) Tak kudengar lagi siulan dunia yang fana Kuucap lantang: La ilaha, tiada yang patut kucinta Hanya di sunyi ini, gerbang kebenaran terbuka Pintu-pintu palsu, kini kubiarkan tertutup bisu. (Verse 2) Tembok kesombongan, kini mulai runtuh Setiap bayangan nama, akhirnya tersentuh Kutahu semua yang kubanggakan, hanyalah debu ringan Saat fajar Tauhid membakar setiap keraguan. (Bridge) Kutempuh lembah gelap, demi satu hakikat Tiada lagi topan, tiada lagi selimut fatamorgana Aku adalah bejana kosong, menunggu air dari langit Yang kutuju hanya Alif yang tegak, tiada pendamping. (Outro) Gerbang sunyi... La ilaha... Ketenangan yang abadi...]
02. Rantai Cahaya di Ujung Fana
[(Verse 1) Siapa yang menyusun detak jantung samudra? Mengapa badai patuh pada garis khatulistiwa? Melihat rantai cahaya yang tak pernah terputus dari zaman Di bawah hukum takdir, semua hanyalah pengembara. (Pre-Chorus 1) Sadarilah, jiwaku, tiada tangan lain yang mengatur Setiap helai nafas, setiap tetes air mata Semua adalah sketsa Agung dari Dzat Yang Maha Tunggal Hanya Dia yang KEKAL, saat segala ciptaan sirna. (Chorus) Ikatan takdir memeluk seluruh penjuru Dia, Sang Pengatur, yang merangkai setiap helai waktu Setiap atom tunduk, di bawah naungan kalimah-Nya Kuasa-Nya abadi, tiada awal tiada jua akhir. (Verse 2) Firaun dan Namrud, kisah lama yang terulang Mencoba meniru jejak matahari yang terbenam Rebana berbisik tegas, memecah kesunyian fatamorgana Bumi ini saksi, atas setiap janji yang diingkari. (Pre-Chorus 2) Sadarilah, jiwaku, tiada tangan lain yang mengatur Setiap helai nafas, setiap tetes air mata Semua adalah sketsa Agung dari Dzat Yang Maha Tunggal Hanya Dia yang KALAM, saat segala ciptaan sirna. (Bridge) Kutanggalkan mahkota dari kepala bayangan Menanggapi panggilan dari keagungan yang tiada tara Jadikan aku hujan, yang tak menuntut pujian Menggenapi siklus, mengabdi dalam diam. (Outro) ...Rantai cahaya... di ujung fana... Hanya Dia... Ya Rabb...]
03. Pohon Tak Berakar, Buah Tak Bermusim
[(Verse 1) Siapa yang kau panggil saat badai datang mendera? Jangkar mana yang kau sangka mampu menahan bahtera? Mengapa kau tawarkan hatimu pada dahan tak bertumpu? Lupakan semua patung, yang kau ukir dari ilusi semu. (Pre-Chorus) Pencarian ini berakhir, saat kulihat cahaya-Nya Dia tak butuh perantara, Dia tak butuh pahlawan dunia Hanya ketulusan yang ditanam di palung jiwa Semua adalah dusta, kecuali cinta pada-Nya. (Chorus) Cinta sejati hanya berlabuh di dermaga-Nya Kutekadkan hati, ibadahku bukan lagi sandiwara Setiap sujudku adalah janji, tanpa ada keraguan Dialah tujuan tunggal, pelebur segala sembah. (Verse 2) Mereka berlutut pada emas, mereka menyembah kekayaan Mencari kenyamanan di pelukan waktu yang tak bertahan Rebana berdentum keras, menyerukan panggilan yang murni Hanya Dia yang memberikan rezeki, tanpa meminta balasan. (Bridge) Kini aku berdiri tanpa keraguan di pundak Membuang bejana lama, yang penuh air keruh kesyirikan Hanya Engkau Ya Illahi, tempatku menjatuhkan raga dan asa Pohon tak berakar, buah tak bermusim: Hanya Engkau yang kekal! (Outro) ...Pohon tak berakar... Buah tak bermusim... Tauhid murni... Hanya Engkau...]
04. Dzikir Matahari dan Pasir Laut
[(Verse 1) Siapa yang menulis nama-Nya di daun yang gugur? Bagaimana gunung diam berdiri tanpa rasa takabur? Aku mendengar laut berbisik: Ya Rahman, Ya Rahim Mengagumi dzikir abadi yang tak pernah berpaling. (Pre-Chorus) Pencipta semesta, yang kekal di atas Arsy Dia mengukir keindahan, di setiap pasir yang bersih Jiwaku memuji Dzat yang tak pernah terbanding Tak ada yang serupa, dalam segala keagungan. (Chorus) Wajah-Nya adalah cahaya, tak tersentuh kefanaan Agungan-Nya melingkupi setiap inci perjalanan Sifat-Nya sempurna, tak pernah mengenal batas Dzikir alam semesta adalah nafas Sang Khalik. (Verse 2) Dia yang Maha Melihat, tanpa butuh kelopak mata Dia yang Maha Mendengar, walau tanpa telinga Kupanggil Al-Ghaniy, karena hatiku miskin tanpa-Nya Kusujud pada Al-Quddus, membersihkan jiwa dari noda. (Bridge) Matahari bersujud di ufuk, pasir laut menghitung doa Setiap ciptaan ber-tasbih, tanpa perlu lidah bersuara Aku hanyalah setetes air, yang mencari samudra Menyanyikan nama-nama-Nya, hingga raga tak bernyawa. (Outro) ...Ya Rahman, Ya Rahim... Ya Quddus... Ya Malik...]
05. Jejak Hening Sang Pengembara
[(Verse 1) Setiap langkah adalah garis di atas air Takdir telah terukir sebelum aku lahir Kuhentikan gejolak, kulebur semua pinta Jiwaku mengembara, mencari rumah-Nya yang sejati. (Pre-Chorus) Bukan lagi mencari untung atau merugi Kehampaan ini adalah puncak segala hasil Kugenggam janji yang tak pernah lisan ucapkan Inilah jejak hening, menuju Sang Maha Adil. (Chorus) Kelegaan tiba saat kubuang ambisi Raga ini hanyalah debu, menari dalam sepi Semuanya milik-Nya, tiada lagi klaim diri Jejak sang pengembara, adalah Fana yang murni. (Verse 2) Mata tak butuh melihat bila hati telah buta Pencarian di luar diri hanyalah sia-sia Dia ada di manapun, di setiap helai angin Rahasia tersembunyi, kini kubiarkan mengalir. (Bridge) Kutanggalkan nama, kulepaskan gelar-gelar Hanya hamba yang hina, menanti belas kasih Biarlah kapal ini berlayar tanpa kemudi Sebab Nakhoda sejati telah lama kutawakkalkan. (Outro) ...Fana yang murni... Tanpa kemudi... Hanya Dia...]
06. Tali Tak Putus dari Arsy
[(Verse 1) Kadang sunyi terasa membatasi jarak Aku ragu, apakah suara ini sampai ke Arsy? Namun jiwa bersaksi: pintu tak pernah tertutup Benar firman-Nya, Dia lebih dekat dari urat leher. (Pre-Chorus) Air mata ini bukan tanda putus asa Ia adalah benang halus menuju Sang Pencipta Tali itu tak pernah rapuh, walau aku alpa Keterikatan abadi, diikat oleh Rahmat-Nya. (Chorus) Jembatan doa adalah tali yang tak putus Setiap rintihan hati, Dia pasti hapus Kupegang janji-Nya, walau angin menerpa Cahaya-Nya memancar, menembus dinding raga. (Verse 2) Meskipun aku lari dan jatuh dalam kubangan dosa Kasih-Nya tetap luas, memanggil untuk kembali Hanya satu ikatan yang abadi dan tak bertepi Ikatan hamba pada Khaliq, yang suci murni. (Bridge) Lihatlah dirimu, bukan makhluk yang terlantar Dia memahat takdirmu dengan pena yang takkan pudar Kembalilah ke fitrah, bersihkan cermin jiwa Sebab tali dari Arsy, takkan pernah terputus. (Outro) ...Tali tak putus... Ikatan abadi... Allahu Akbar...]
07. Alif Tanpa Titik (The Finale)
[(Verse 1) Setiap angka adalah ilusi yang memecah Setiap garis adalah batas yang harus dipatah Kembara panjang kini menemukan muara Hanya satu titik, di mana semua kembali. (Pre-Chorus) Aku adalah bayangan dari bayangan-Nya Tiada bobot, tiada wujud, tiada nama Hanya penyerahan total, tanpa tanya Kesatuan jiwa, kembali pada pencipta. (Chorus) Inilah Alif, yang tegak tanpa titik Ketiadaan yang sempurna, tanpa selidik Dia Yang Ahad, yang awal dan yang akhir Segala puji dan sembah, hanyalah milik-Nya. (Verse 2) Bumi telah bicara, langit telah bersaksi Waktu telah sirna, yang tinggal hanya Dzat Sejati Pencipta sekalian alam, tak terbanding Kini kuucapkan Ahad, dengan suara yang hening. ... Alif... Ahad...]
Komentar
Posting Komentar